(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "Filsafat"

FILSAFAT CINA 



A. 


PENDAHULUAN 


B. 


CIRI-CIRI FILSAFAT CINA 


C. 


PERIODISASI FILSAFAT CINA 




1. Zaman Klasik (600 - 200 SM) 




1.1. Taoisme (aliran Taois) 

1.2. Konfusianisme (aliran Ru) 

1.3. Monisme (aliran Mohis) 

1.4. Legalisme (aliran Fa) 

1.5. Okultisme (aliran Yin-Yang) 

1.6. Sofisme (aliran Nama-nama) 

2. Zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 SM - 1000) 




3. Zaman Neo-Konfusianisme (1000 - 1900) 




4. Zaman Modem (1900 - ) 


D. 


KESIMPULAN 



A PENDAHULUAN 



Masa dinasti Zhou (l 1 22-255 SM) dikenal sebagai zaman klasik kebudayaan 
Cina. Dapat dibandingkan dengan zaman emas kebudayaan Yunani. Seperti 
halnya kebudayaan klasik Yunani menjadi norma bagi kebudayaan Barat, 
demikian pula kebudayaan Zhou menjadi model bagi kebudayaan Cina 

Di masa dinasti Zhou ini, khususnya periode abad 6 hingga abad 3 SM 
berkembanglah filsafat Cina kuno, yang melahirkan apa yang dinamakan Seratus 
Mazhab filsafat. Masa dinasti Zhou merupakan puncak kegiatan intelektual, 
sosial, dan politik di Cina. Di masa itu segala pranata dan konvensi yang mapan 
digugat dan dikritik. Dari gugatan dan kritik-kritik itulah lahirlah filsafat. Orang 
memang berfilsafat kalau dia merasa bahwa dunia tidak seperti yang 
diidamkannya. 

Semua filsuf besar dari dinasti Zhou berusaha memecahkan kekalutan sosial 
dan politik yang terjadi waktu itu. Cara pemecahan yang dianjurkan oleh para 
filsuf itu tidak sama. Maka muncullah aneka aliran pemikiran dan sistem filsafat 
di Cina. (Sastrapratedja: 27) 



40 



B. CIRI-CIRI FILSAFAT CINA 



Filsafat Cina mempunyai beberapa ciri sebagai berikut: 

1 . Berkaitan dengan sastra. Kesusastraan dan tulisan filsafat Cina lahir pada 
waktu bersamaan, yakni abad 9 hingga abad 8 SM. Di Cina, menjadi orang 
berbudava berarti menjadi orang terpelajar dengan filsafat sebagai bagian 
utamanya. 

Kebanyakan penulis prosa sering menganggap diri sebagai filsuf dan 
berusaha menyumbang sesuatu untuk pengetahuannya. Sebaliknya, para 
filsuf Cina juga menjadi sastrawan. Mereka menuliskan hasil pemikiran 
dalam karya sastra. 

Karena filsafat terkait erat dengan sastra, orang yang ingin belajar 
filsafat Cina pasti mempelajari sastra Cina. Begitu pula sebaliknya. Ciri ini 
sebetulnya juga memperlihatkan perbedaan filsafat Barat dan filsafat Timur. 
Filsafat Barat, kecuali beberapa filsuf eksistensialis, selalu ditulis dalam 
bentuk uraian diskursif. (Sastrapratedja: 10) 

2. Lebih antroposentris dibanding filsafat Barat dan filsafat India 

3. Lebih pragmatis. Selalu mengajarkan bagaimana orang harus bertindak 
demi keseimbangan antara dunia dan sorga. 

C. PERIODISASI FILSAFAT CINA 

Filsafat Cina dapat dibagi dalam empat periode besar, yakni: zaman Klasik, 
zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme, zaman Neo-Konfusianisme, dan zaman 
modern. Berikut dijelaskan tentang periode-periode tersebut. 

1. Zaman Klasik (600 - 200 SM) 

Di zaman ini, khususnya semasa dinasti Zhou, lahir dan berkembanglah 
filsafat Cina kuno. Di masa ini lahirlah Seratus Madzab Filsafat, yang 
mengajarkan ajaran yang berbeda satu sama lain. Seratus madzab itu 
biasanya dikelompokkan dalam enam aliran besar, yakni aliran Taois 
(Taoisme), aliran Ru (Konfusianisme), aliran Mohis (Mohisme), aliran Fa 
(legalisme), aliran Yin-Yang (okultisme), dan aliran Nama-nama (sofisme). 
Berikut ini penjelasan tentang aliran-aliran tersebut. 



41 



1.1. Konfusianisme 

Aliran ini didirikan oleh Kong Fu Tse, artinya guru dari suku 
Kung (551-497 SM). Konfusianisme mendominasi alam pemikiran 
Cina selama 25 abad. Konfusianisme bermula dari ajaran Konsufius, 
tapi kemudian dikembangkan oleh Mensius atau Meng Zi (371-289 
SM) dan Xun Zi (298-238 SM). 

Konfusianisme lahir di tengah anarki sosial dan intelektual. 
Menurut Konfusius, kekacauan dan anarki bukan hakikat masyarakat 
dan peradaban. Rakyat diajarkan untuk memelihara pranata sosial 
dan kulturalnya, dan kembali kepada // (tata cara atau upacara) dari 
zaman dinasti Zhou awal. Konfusiuslah yang mengambil kitab klasik 
dinasti Zhou keluar dari tempat penyimpanannya dan 
membeberkannya di depan umum. Ia mengubah aneka tata cara dan 
kebiasaan feodal menjadi sistem etika. 

Inti ajaran: Tao (= jalan sebagai prinsip utama dari kenyataan) 
merupakan jalan manusia. Dengan kehidupan yang baik, manusia 
menjadikan Tao itu luhur dan mulia. Kebaikan hidup dapat dicapai 
melalui perikemanusiaan (yen). 

Ajaran Konfusius diteruskan oleh Mensius dan Xun Zi. Mensius 
mengajarkan bahwa kodrat manusia itu baik. Dia mendasarkan 
ajarannya atas doktrin ren dan yi. Ren adalah prinsip tepat untuk 
mengawasi gerak internal, sedangkan yi adalah cara tepat untuk 
membimbing tindak eksternal. 

Xun Zi adalah eksponen ajaran Konfusius, tapi pengkritik 
Mensius, khususnya ajaran Mensius tentang kodrat manusia. Mensius 
adalah seorang idealis, Xun Zi adalah seorang realis. Menurut Xun, 
kodrat manusia itu pada dasarnya jelek. Dia menempatkan fungsi 
dan hak istimewa negara di tempat amat tinggi, seperti dilakukan 
kaum Legalis, sehingga Xun tidak begitu dihormati di kalangan 
penganut Konfusianis. (Hamersma: 32; Sastrapratedja: 2-3) 

1.2. Taoisme 

Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (guru tua). Dia hidup sekitar 
tahun 550 SM. Lao Tse menentang Konfusius. 

Inti ajaran: Tao bukannya jalan manusia melainkan jalan alam. 
Pranata dan konvensi sosial harus ditinggalkan. Manusia harus menarik 



42 



diri dari peradaban dan kembali kepada alam. Jadi, Taoisme menjunjung 
tinggi Tao dan alam. Itulah sebabnya jalan pemikiran Taoisme disebut 
naturalistik. (Sastrapratedja: 1; Hamersma: 32) 

Para penganut Taoisme memandang alam sebagai tempat mereka 
menarik diri, mencita-citakan kehidupan yang sederhana, dengan inti 
ajaran wu wei. 

Taoisme kemudian terpecah menjadi dua, masing-masing 
dipelopori Zhuang Zi (350-275 SM) dan Yang Zhu (abad V hingga 
abad VI). 

1.3. Mohisme 

Mohisme didirikan oleh Mo Tse atau Mo Zi (470-391?). Aliran 
ini bersifat utilitaristis dan pragmatis. Artinya, baik-buruknya sesuatu 
tindakan bergantung dari pertimbangan untung-ruginya. Yang memberi 
keuntungan itu baik, yang merugikan itu jahat. Mohisme dimaksudkan 
untuk kalangan rakyat kebanyakan. Jadi, bertentangan dengan Taoisme 
dan Konfusianisme yang aristokratik. 

Inti ajaran: "Untung adalah apa yang orang ingin miliki; rugi adalah 
apa yang orang tak ingin memiliki", kata Mo Zi. Untung artinya apa 
yang menghasilkan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan. 
Sedangkan kejahatan adalah menghasilkan lebih banyak kejahatan 
daripada kebaikan. Itulah sebabnya, dikatakan, bahwa manusia harus 
sering-sering membatalkan keuntungan jika pada akhirnya keuntungan 
itu membawa kerugian. Begitu pula, orang harus siap mengalami 
kerugian jika kerugian itu pada akhirnya membawa kepada kebaikan. 

Mohisme mengajarkan cinta universal. Rakyat Cina harus percaya 
kepada Sang Langit sebagai daya aktif yang menampilkan cinta kepada 
semua orang, karena Sang Langit, baginya adalah yang paling "berguna" 
bagi keuntungan negara dan rakyat. 

Mo Zi sendiri menentang kemewahan, upacara pemakaman yang 
boros, masa kabung yang berkepanjangan, dan upacara-upacara feodal 
yang menghamburkan kekayaan. 

1.4. Legalisme 

Aliran Fa atau legalisme dikaitkan dengan nama Guan Zhong, 
seorang menteri keamanan dari negeri Qi pada abad 7 SM. Legalisme 

43 



menekankan sopan santun, keadilan, kejujuran, dan penguasaan diri. 

Legalisme berasal dari ajaran shi (otoritas) menurut Shen Dao, 
ajaran shu menurut Shen Buhai, dan fa (hukum) menurut Shang Yang. 
Kaum legalis mendukung pemerintahan yang kuat, otokratis, dan 
menggunakan hukum yang kuat dan otokratis. 

Aliran ini mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus dimulai 
dengan contoh yang baik oleh kaisar atau para pembesar lain, tetapi 
dari suatu sistem undang-undang yang sangat ketat. 

1.5. Aliran Ying-Yang 

Aliran ini sebetulnya merupakan cabang dari Taoisme. Aliran ini 
mengajarkan tentang, adanya prinsip yin (betina) dan Yang (jantan) 
sebagai dua prinsip dalam alam. Interaksi antara Yin dan Yang itulah 
yang menimbulkan perubahaan di alam semesta. 

Yin adalah prinsip pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan 
perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. Yang adalah 
prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, laki-laki, simbol untuk 
hidup. 

1.6. Aliran Nama-nama: Sofisme 

Aliran Nama-nama disebut juga Ming Chia. Mereka ini 
menyibukkan diri dengan analisa istilah-istilah dan kata-kata. Disebut 
juga sekolah dialektik. Aliran ini dapat dibandingkan dengan aliran 
sofisme dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka digunakan untuk 
menganalisa dan mengkritik dalam kaitan dengan masalah kebahasaan. 

2. Zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 SM - 1000 M) 

Pada abad 3 SM hingga tahun 1000 Masehi, Cina disusupi oleh unsur- 
unsur kebudayaan asing. Buddhisme dari India, setelah bercampur dengan 
Taoisme Cina, berkembang subur dan membayang-bayangi Konfusianisme. 

Patut diperhatikan perbedaan antara ungkapan Buddhisme Cina dan 
Buddhisme di Cina. Ungkapan yang kedua menunjukkan Buddhisme yang terkait 
pada tradisi India dan tidak berperan besar dalam perkembangan filsafat Cina. 
Ia diwakili Aliran Idealisme Subyektif atau Xiang Zong (atau Weishi Zong 
alias Aliran Vijnavada). 



44 



Sedangkan ungkapan yang pertama adalah bentuk Buddhisme yang dekat 
dengan pemikiran Cina. Aliran ini diwakili oleh Aliran Jalan Tengah, atau Sanlong 
Zong (alias Aliran Madhyamika). Buddhisme Aliran Jalan Tengah ini mirip dengan 
Taoisme Cina. Pertemuan antara Aliran Jalan Tengah dan Taoisme Cina melahirkan 
Aliran Chan (di Jepang dikenal sebagai Zen atau Dhyana). 

Jadi, Channisme adalah sintesa antara unsur-unsur Buddhisme India dengan 
Taoisme, dan sebab itu dinamakan Neo-Taoisme. Di sini, Tao dibandingkan 
dengan Nirwana dari ajaran Buddhisme. Para pengikutnya berusaha untuk, 
melalui meditasi, mengidentifikasi budi individu dengan Budi Semesta. Jadi, 
lewat kegiatan meditasi atau diam diri dicapai kesatuan antara budi individu 
dan Budi Semesta. 

3. Zaman Neo-Konfusianisme (1000 1900) 

Neo-Konfusianisme merupakan ringkasan atau revisi dari etika, moral, dan 
kepercayaan dari kepercayaan masa lampau dan tetap berpegang pada semangat 
zaman itu. Neo-Konfusianisme tidak sama dengan kebangkitan Konfusianisme. 
Memang para penganut Neo-Kantianisme adalah sarjana-sarjana Konfusian, 
tapi kegiatan intelektual mereka ditentukan oleh spekulasi-spekulasi yang berasal 
dari para guru aliran Chan. 

Neo-Konfusianisme memuat prinsip-prinsip Konfusianisme dalam bentuk 
baru, dicampur unsur Buddhisme. Sebagaimana halnya sintesa Buddhisme dan 
Taoisme menghasilkan Channisme, maka Konfusianisme berinteraksi dengan 
Buddhisme dan menghasilkan Neo-Konfusianisme (atau Li-isme). 

Buddhisme menggambarkan nirvana sebagai keadaan budi yang tenang. 
Konfusianisme sebaliknya menggambarkan keadaan esensial alam semesta dan 
budi manusia berada dalam aktivitas terus-menerus. Neo-Konfusianisme 
mengembangkan konsep tentang "tenang yang ada dalam kegiatan konstan, dan 
kegiatan dalam ketenangan konstan". Neo-Konfusianisme melukiskan ludi dengan 
berbagai cara, misalnya: 

"Budi itu bagaikan cermin. Aneka gambar yang jatuh di permukaannya 
giat tiada hentinya, tapi cermin itu tetap tenang dan tidak rusuh. Budi itu bagaikan 
matahari. Awan-awan lewat dan musnah di bawahnya, tetapi matahari itu sendiri 
tetap konstan dan tidak terpengaruh. Budi itu bagaikan permukaan laut yang 
cukup luas. Ombak naik dan turun, tapi permukaannya tetap tenang dan tak 
mengganggu. Budi itu aktif, tetapi sementara ia aktif, ia tetap tenang. Keadaan 
budi yang paling tinggi dan terbaik adalah tenang sekaligus aktif. 



45 



Buddhisme menganggap kehidupan ini adalah laut kepahitan. Hidup itu 
bagaikan mimpi, tidak nyata. Buddhisme mengembangkan filsafat tentang 
Dunisini. Mereka menyibukkan diri dengan hubungan antarmanusia dan kebajikan 
manusia, tak peduli dengan persoalan rumit tentang ontologi dan adikodrati. 

Neo-Konfusianisme menggabungkan kedua pandangan itu, mengakui ke- 
sana-an sekaligus ke-sini-an dunia. Neo-Konfusianisme berusaha membuat yang 
ilahi menjadi manusiawi, dan yang manusiawi menjadi ilahi. Sibuk dengan 
urusan dunia, tapi juga menggunakan hal-hal adikodrati. 

Pusat filsafat Neo-Konfusianisme adalah Li (atau pikir), yang dinamakan 
Tao dalam Taoisme (Sastrapratedja: 7-8; Hamersma 34). 

4. Zaman Modern (1900 - sekarang) 

Dalam sejarah Cina, periode Dinasti Manzhu (l 644- 1 91 1) dan pemerintahan 
Republik (1911) ditandai skeptisisme. Semua pranata yang sudah mapan, 
perkawinan, keluarga, masyarakat, negara, hukum, dipertanyakan. Masa ini sering 
dibandingkan dengan zaman Renaissance di Eropa. 

Pada periode ini, ada tiga tendensi dalam filsafat Cina, yakni: 

a. Pengaruh Filsafat Barat: filsafat Barat mulai memasuki Cina, khususnya 
pragmatisme dari John Dewey, dan sesudahnya Kari Marx. Hal ini 
disebabkan oleh diterjemahkannya karya-karya para pemikir Barat ke dalam 
bahasa Cina, seperti karya Leo Tolstoi, Hendrik Ibsen, Guy de Maupassant, 
Shelley, Emerson, Kari Marx dan Friedrich Engels. Semua tokoh itu 
memberikan pengaruh besar bagi pembaruan kehidupan intelektual Cina. 

Filsafat bergandengan tangan dengan perkembangan politik, sosial, 
religius, dan artistik. Muncul para pemikir yang menekuni studi linguistik 
dan kritik teks. Kuatnya pengaruh filsafat Barat itu ditopang oleh munculnya 
Gerakan Kebudayaan Baru, dengan tokoh-tokohnya antara lain Hu Shi dan 
Chen Duxiu. Mereka amat mengagumi Barat, menggunakan positivisme 
sebagai sumber inspirasi. Tujuan yang ingin dicapai adalah membuang 
Konfusionisme karena dianggap sama dengan konservatisme masa lampau 
yang menghalangi gagasan-gagasan baru. 

b. Kecenderungan untuk kembali kepada filsafat pribumi. 

c. Dominasi filsafat dan pemikiran Kari Marx, Lenin, dan Mao Tse Tung 
sejak tahun 1950. 



46 



D. KESIMPULAN UMUM 



Dalam membicarakan tentang filsafat Cina, ada tiga tema utama yang terdapat 
dalam filsafat Cina, yakni: 

1. Harmoni: antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara 
manusia dan surga. Dihindari ekstrim, dan dicari jalan tengah. 

2. Toleransi: nampak pada keterbukaan sikap terhadap pendapat yang berbeda. 
Ini memungkinkan hidupnya pluriformitas budaya, termasuk agama. 

3. Kemanusiaan: manusia merupakan pusat pemikiran filsafat Cina. Manusia 
mengejar kebahagiaan di dunia dengan mengembangkan diri dalam interaksi 
dengan alam dan sesama. 



47